Header Ads

ad728
  • Breaking News

    Pengertian Hadits Menurut Bahasa dan Istilah


    Pengertian Hadis: Menurut Bahasa dan Istilah

    Hadis merupakan salah satu sumber utama ajaran Islam yang memuat ucapan, perbuatan, dan ketetapan Nabi Muhammad SAW. Meskipun sudah banyak dikenal, pemahaman tentang hadis masih penting untuk diperjelas agar kita bisa membedakan berbagai istilah terkait. Dalam artikel ini, kita akan membahas pengertian hadis baik dari sisi bahasa maupun istilah, serta perbedaan antara hadis dan sunnah, serta makna taqrir.

     

    Pengertian Hadis Menurut Bahasa

    Ada tiga kata yang sering dijadikan makna dari hadis menurut bahasa, yaitu:

    1. Khabar
      Khabar berarti berita atau warta. Dalam konteks hadis, khabar mengacu pada segala sesuatu yang diperbincangkan atau ucapan yang dipindahkan dari seseorang kepada orang lain. Dalam bahasa sehari-hari, ini berarti segala hal yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW kepada umatnya, yang kita kenal dengan "ma yatahaddatsu bihi wa yunqalu" (apa yang mereka bicarakan dan sampaikan).

    2. Jadid
      Jadid berarti baru. Ini adalah lawan kata dari qadim, yang berarti lama. Jadi, hadis bisa berarti sesuatu yang baru, tetapi apabila disandarkan pada Nabi Muhammad SAW, maknanya menjadi lebih khusus, yakni wahyu atau ajaran yang disampaikan oleh Nabi setelah diangkat menjadi rasul.

    3. Qarib
      Qarib berarti dekat atau yang baru saja terjadi. Sebagai contoh, dalam kalimat "haditsul ahdi bil-Islam" yang artinya orang yang baru saja memeluk Islam. Kata ini menggambarkan sesuatu yang terjadi dalam waktu yang dekat atau belum lama terjadi.

    Dari ketiga pengertian di atas, jamak dari kata hadis bisa berupa hudutsan atau hidtsan, yang sering disebut sebagai ahadits dalam konteks hadis-hadis Nabi Muhammad SAW.

    Hadis Menurut Istilah

    Menurut ahli hadis, hadis memiliki definisi yang lebih spesifik. Salah satu definisi yang sering dikutip adalah dari al-Hafidh dalam syarah Al-Bukhari, yang menyatakan bahwa hadis meliputi:

    "Segala ucapan Nabi Muhammad SAW, segala perbuatannya, dan juga segala keadaan beliau."

    Dalam pengertian ini, segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan Nabi—baik ucapan, perbuatan, maupun keadaan—dapat disebut hadis, asalkan itu berasal dari Nabi Muhammad SAW dan menjadi rujukan umat Islam.

    Definisi Hadis Menurut Ulama Ushul Hadis

    Ulama Ushulul Hadis memberikan penegasan bahwa hadis Nabi hanya mencakup hal-hal yang berkaitan dengan hukum. Sebagaimana dinyatakan dalam definisi:

    "Segala perkataan, perbuatan, dan taqrir Nabi, yang berkaitan dengan masalah hukum."

    Ini berarti, meskipun ada banyak hal yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW, hanya yang berkaitan dengan hukum atau ketentuan agama yang diakui sebagai hadis Nabi yang sah.

    Sunnah Nabi

    Dalam pengertian bahasa, Sunnah berarti jalan yang dijalani, baik itu terpuji maupun tidak. Namun, dalam istilah para muhadditsin, sunnah merujuk pada segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW—baik itu perkataan, perbuatan, ketetapan (taqrir), sifat, atau perjalanan hidup Nabi.

    Sunnah juga seringkali diartikan sebagai segala dalil syar’i yang disepakati oleh fuqaha, yakni Al-Qur'an, hadis, serta ijtihad para sahabat. Ini sesuai dengan himbauan Nabi Muhammad SAW untuk berpegang pada sunnah beliau dan sunnah para Khulafaur Rasyidin setelahnya.

    Taqrir dalam Hadis

    Taqrir merujuk pada ketetapan Nabi Muhammad SAW terhadap suatu kejadian yang terjadi di hadapan beliau tanpa memberikan penolakan atau pembenaran. Contoh taqrir yang sering dijadikan referensi adalah ketika Nabi Muhammad SAW tidak menanggapi tindakan sahabat yang berbeda pemahaman dalam hal waktu salat, menunjukkan bahwa kedua pemahaman tersebut benar.

    Perbedaan Hadis dan Sunnah

    Walaupun sering terdengar mirip, hadis dan sunnah memiliki makna yang berbeda. Hadis bisa merujuk pada suatu ucapan atau perbuatan yang diriwayatkan sekali saja dan dapat diterima sebagai hadis, meskipun diriwayatkan oleh satu perawi saja. Sedangkan sunnah mengacu pada amaliyah atau perbuatan yang dilakukan secara terus-menerus dan turun-temurun (mutawatir). Dengan kata lain, sunnah lebih merujuk pada praktek atau tradisi yang dilakukan oleh Nabi dan umatnya yang diikuti secara konsisten.

    Kesimpulan

    Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa meskipun istilah "hadis" dan "sunnah" sering dipertukarkan, keduanya memiliki makna yang berbeda dalam ilmu hadits. Hadis merujuk pada ucapan, perbuatan, atau ketetapan Nabi Muhammad SAW yang dapat diterima melalui riwayat, sementara sunnah adalah amaliyah yang diteruskan secara turun-temurun. Pemahaman yang mendalam tentang kedua istilah ini sangat penting untuk memahami ajaran Islam yang bersumber dari Nabi Muhammad SAW.

    Dengan pemahaman ini, kita dapat lebih bijak dalam menyikapi setiap riwayat yang diterima dan lebih berhati-hati dalam mengamalkan ajaran yang bersumber dari Nabi Muhammad SAW.

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    ad728

    Post Bottom Ad

    ad728