Header Ads

ad728
  • Breaking News

    Pengertian Hadits dalam Berbagai Perspektif: Sumber, Kuantitas, dan Kualitas

    Hadits merupakan sumber ajaran Islam yang sangat penting selain Al-Qur'an. Dalam kajian ilmu hadits, kita sering kali menemukan berbagai pembagian yang mengklasifikasikan hadits berdasarkan segi sumbernya, kuantitasnya, dan kualitasnya. Artikel ini akan membahas tentang pengelompokan hadits dari segi tersebut.

    A. Ditinjau Dari Segi Sumbernya

    Hadits dapat dibagi menjadi dua macam berdasarkan sumbernya:

    1. Hadits Qudsi (Hadits Robbani)
      Hadits Qudsi adalah wahyu yang berasal dari Allah SWT, namun disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW. dengan redaksi atau susunan kata-kata beliau sendiri. Dengan kata lain, makna dari hadits ini berasal dari Allah SWT., tetapi lafal atau kalimatnya adalah dari Nabi Muhammad SAW.
      Contoh hadits Qudsi:
      Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW. bersabda:
      "Allah 'Azza wa Jalla berfirman: 'Aku, menurut sangkaan hamba-Ku, dan Aku besertanya di mana saja dia menyebut (mengingat) Aku.'" (HR. Bukhari)

    2. Hadits Nabawi
      Hadits Nabawi adalah hadits yang seluruh makna dan lafalnya berasal langsung dari Nabi Muhammad SAW. Ini berbeda dengan Hadits Qudsi karena tidak ada campur tangan wahyu langsung dari Allah SWT.
      Contoh hadits Nabawi:
      Rasulullah SAW. bersabda: "Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka tempatnya di neraka." (HR. Bukhari)

    Perbedaan Antara Hadits Qudsi dan Hadits Nabawi:

    • Hadits Qudsi: Makna berasal dari Allah, redaksi dari Nabi.
    • Hadits Nabawi: Makna dan redaksi semuanya berasal dari Nabi Muhammad SAW.
    • Al-Qur’an tidak boleh disampaikan hanya dengan maknanya saja, sedangkan Hadits Qudsi boleh disampaikan hanya dengan maknanya.

    B. Ditinjau Dari Segi Kuantitasnya (Rawinya)

    Hadits juga dapat dibedakan berdasarkan jumlah perawi atau rawinya, yaitu:

    1. Hadits Mutawatir
      Hadits mutawatir adalah hadits yang diriwayatkan oleh banyak perawi di setiap tingkat sanadnya sehingga mustahil bagi mereka untuk berdusta bersama-sama. Hadits ini diyakini kebenarannya secara mutlak dan harus diterima dan diamalkan.
      Contoh hadits mutawatir:
      "Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka tempatnya di neraka." (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dll.)

      Hadits mutawatir terbagi menjadi dua jenis:

      • Mutawatir lafzi: Perkataan Nabi Muhammad SAW.
      • Mutawatir 'amali: Perbuatan Nabi Muhammad SAW.
    2. Hadits Ahad
      Hadits ahad adalah hadits yang tidak mencapai derajat mutawatir, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang lebih sedikit jumlahnya.
      Menurut beberapa ulama:

      • Imam Hanafi: Hadits ahad hanya dapat dijadikan hujjah dalam amalan, bukan dalam masalah aqidah dan ilmiah.
      • Imam Malik: Hadits ahad dapat dipakai untuk menetapkan hukum yang tidak ditemukan dalam Al-Qur’an.
      • Imam Syafi’i: Hadits ahad dapat dijadikan hujjah asalkan perawinya adil dan hafalannya benar.

    C. Ditinjau Dari Segi Kualitasnya (Sanadnya)

    Dari segi kualitas, hadits dibagi menjadi tiga macam berdasarkan kualitas sanad dan periwayatannya:

    1. Hadits Shohih
      Hadits yang memenuhi semua syarat periwayatan, antara lain:

      • Isnad terhubung
      • Perawi adil
      • Perawi dhabit (teliti dan kuat hafalannya)
      • Tidak ada syadz (kontroversial)
      • Tidak ada illat (cacat)

      Hadits shohih dibagi menjadi dua:

      • Shohih Lizatihi: Hadits yang shohih dengan sendirinya tanpa memerlukan tambahan riwayat lain.
      • Shohih Lighoirihi: Hadits yang keshohihannya diperkuat oleh riwayat lain.
    2. Hadits Hasan
      Hadits yang sanadnya bersambung dan perawiannya adil, tetapi memiliki sedikit kekurangan dalam kekuatan hafalan. Hadits hasan juga dibagi menjadi dua:

      • Hasan Lizatihi: Hadits yang hasan dengan sendirinya.
      • Hasan Lighoirihi: Hadits yang dianggap hasan karena diperkuat oleh riwayat lain.
    3. Hadits Dhoif (Lemah)
      Hadits yang tidak memenuhi syarat untuk dikategorikan sebagai hadits shohih atau hasan. Hadits dhoif bisa disebabkan oleh beberapa hal, seperti sanad yang terputus, atau perawi yang lemah. Beberapa jenis hadits dhoif yang dikenal antara lain:

      • Hadits Mursal: Hadits yang diriwayatkan oleh seorang tabi’in tanpa menyebutkan nama sahabat yang menyampaikan hadits tersebut.
      • Hadits Munqothi’: Hadits yang sanadnya terputus pada satu titik.
      • Hadits Al-Mu’adhol: Hadits yang memiliki dua orang atau lebih yang perawinya tidak disebutkan dalam sanad.
      • Hadits Mu’allal: Hadits yang memiliki cacat tersembunyi dalam sanad atau matannya.

    Penutup

    Pembagian hadits berdasarkan sumber, kuantitas, dan kualitasnya memiliki tujuan untuk lebih memahami status dan kedudukan hadits dalam syariat Islam. Klasifikasi ini juga membantu para ulama dalam menentukan validitas dan keabsahan sebuah hadits untuk dijadikan pedoman dalam menjalankan ajaran Islam.

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    ad728

    Post Bottom Ad

    ad728