Header Ads

ad728
  • Breaking News

    Sejarah Bulan Muharam

    I. Pendahuluan

    Bulan Muharam adalah bulan pertama dalam kalender Hijriyah yang digunakan oleh umat Islam di seluruh dunia. Nama "Muharam" secara harfiah berarti “yang diharamkan” atau “yang dimuliakan”. Dalam tradisi Islam, bulan ini memiliki kedudukan yang sangat istimewa karena termasuk salah satu dari empat bulan suci (al-ashhur al-hurum) yang dimuliakan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an. Keempat bulan itu adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharam, dan Rajab.


     

    Allah SWT berfirman dalam surah At-Taubah ayat 36:

    "Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram..."
    (QS. At-Taubah: 36)

    Dalam tafsir ayat ini, para ulama menjelaskan bahwa bulan-bulan haram tersebut telah dimuliakan sejak masa Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, dan tetap dihormati dalam ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW.

    Muharam juga dikenal dengan sebutan "Syahrullah" yang artinya "Bulan Allah". Julukan ini diberikan langsung oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya:

    "Sebaik-baik puasa setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharam..."
    (HR. Muslim)

    Penyebutan “bulan Allah” menjadi indikasi keistimewaan Muharam dibanding bulan-bulan lainnya. Tidak ada bulan lain yang mendapatkan julukan seperti itu. Hal ini menunjukkan bahwa Muharam bukan hanya sebagai awal tahun dalam penanggalan Islam, tetapi juga sebagai bulan yang penuh berkah, ampunan, dan kesempatan memperbanyak amal kebajikan.

    Sebagai bulan pembuka tahun Hijriyah, Muharam juga membawa makna simbolis yang kuat. Ia menjadi momen awal untuk memulai lembaran baru dalam kehidupan, seraya merefleksikan perjalanan spiritual yang telah lalu. Dalam konteks keislaman, perubahan tahun bukan hanya sekadar hitungan waktu, tetapi juga sebuah panggilan untuk melakukan hijrah batiniah—yakni berpindah dari hal-hal buruk menuju kebaikan, dari lalai menjadi sadar, dari maksiat menuju taat.

    Oleh karena itu, memahami sejarah dan makna bulan Muharam tidak hanya penting dari sisi keilmuan, tapi juga sangat relevan untuk memperkuat kualitas iman dan amal umat Islam dalam mengawali tahun yang baru.

    II. Asal-usul dan Penetapan Bulan Muharam

    Untuk memahami mengapa Bulan Muharam ditempatkan sebagai bulan pertama dalam kalender Hijriyah, kita harus melihat kembali sejarah penetapan sistem penanggalan Islam. Sebelum Islam datang, bangsa Arab telah menggunakan penanggalan berdasarkan peredaran bulan (qomariyah), namun belum ada penentuan awal tahun yang baku dan sistematis. Mereka hanya menyebut tahun berdasarkan peristiwa besar, seperti "Tahun Gajah" (tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW) dan sebagainya.

    1. Latar Belakang Penetapan Kalender Hijriyah

    Kalender Hijriyah baru resmi ditetapkan sebagai sistem penanggalan Islam pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab RA, tepatnya sekitar tahun 17 Hijriyah (638 Masehi). Pada saat itu, muncul kebutuhan administratif dalam pemerintahan Islam untuk menetapkan sistem penanggalan yang rapi dan terstruktur, khususnya untuk pengarsipan dokumen-dokumen resmi negara dan keperluan surat-menyurat.

    Sahabat-sahabat utama Nabi SAW pun kemudian diajak bermusyawarah. Ada berbagai usulan, seperti menjadikan tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW sebagai awal kalender, atau tahun diangkatnya beliau menjadi rasul. Namun akhirnya disepakati bahwa tahun hijrah Nabi dari Mekkah ke Madinah (622 M) akan dijadikan titik awal kalender Islam, karena peristiwa hijrah dianggap sebagai momen krusial yang menandai awal terbentuknya masyarakat dan pemerintahan Islam secara nyata.

    2. Mengapa Muharam Dijadikan Bulan Pertama?

    Setelah disepakati bahwa kalender Islam akan dimulai dari tahun hijrah, pertanyaan selanjutnya adalah: bulan apa yang layak menjadi awal tahun?

    Beberapa sahabat mengusulkan agar Rabiul Awal dijadikan bulan pertama karena Nabi Muhammad SAW hijrah pada bulan itu. Namun Umar bin Khattab RA dan mayoritas sahabat lainnya sepakat untuk memilih Muharam sebagai bulan pertama dalam kalender Hijriyah, dengan alasan yang sangat logis dan bijak.

    Salah satu alasannya adalah bahwa tekad untuk hijrah muncul pada bulan Muharam, sedangkan pelaksanaan hijrah terjadi pada bulan Rabiul Awal. Di samping itu, bulan Muharam datang setelah bulan Dzulhijjah, yaitu bulan di mana kaum Muslimin menunaikan ibadah haji dan melakukan baiat kesetiaan kepada Nabi di peristiwa Aqabah. Maka, Muharam menjadi simbol awal komitmen baru umat Islam untuk hijrah, berubah, dan membangun kehidupan Islam secara lebih baik.

    Dengan demikian, penetapan Muharam sebagai awal tahun Hijriyah bukan sesuatu yang kebetulan, tetapi memiliki nilai historis dan spiritual yang sangat dalam. Ia menandai transisi umat Islam dari masa ujian dan tekanan di Mekkah menuju era pembangunan masyarakat madani di Madinah.

    III. Keutamaan Bulan Muharam

    Bulan Muharam merupakan salah satu dari empat bulan suci dalam Islam yang disebut dalam Al-Qur’an dan diperkuat oleh hadis-hadis Nabi Muhammad SAW. Keutamaan bulan ini bukan hanya karena ia menjadi awal tahun Hijriyah, tetapi juga karena nilai spiritual yang terkandung di dalamnya begitu tinggi. Umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah dan menjauhi dosa, karena pahala dan dosa di bulan ini memiliki nilai yang lebih besar dibandingkan bulan-bulan biasa.

    1. Termasuk dalam Empat Bulan Suci (Al-Asyhurul Hurum)

    Dalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 36, Allah SWT berfirman:

    “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu...”
    (QS. At-Taubah: 36)

    Empat bulan haram yang dimaksud dalam ayat ini adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharam, dan Rajab. Dalam bulan-bulan ini, umat Islam dilarang melakukan peperangan dan dianjurkan untuk menjaga diri dari segala bentuk maksiat, karena semua perbuatan—baik atau buruk—dilipatgandakan balasannya.

    Bulan Muharam, sebagai salah satu dari bulan haram, dimuliakan karena Allah SWT secara khusus melarang pertumpahan darah dan perbuatan zalim di dalamnya. Oleh karena itu, bulan ini menjadi momentum bagi umat Islam untuk memperbanyak amal ibadah dan memperbaiki diri.

    2. Disebut sebagai "Bulan Allah" (Syahrullah)

    Keistimewaan Muharam semakin tinggi karena Rasulullah SAW menyebutnya dengan gelar yang sangat mulia: Syahrullah al-Muharam (Bulan Allah Muharam). Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nabi Muhammad SAW bersabda:

    "Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharam."
    (HR. Muslim no. 1163)

    Dalam hadis ini, ada dua hal penting:

    • Pertama, Nabi menyebut Muharam sebagai bulan Allah, yang menunjukkan kemuliaan dan kehormatan khusus yang tidak diberikan kepada bulan-bulan lain.
    • Kedua, puasa yang dilakukan di bulan Muharam, terutama pada hari Asyura, memiliki nilai dan keutamaan yang sangat besar.

    Para ulama menyatakan bahwa penamaan “bulan Allah” menunjukkan bahwa Muharam memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah SWT. Hal ini mengisyaratkan bahwa amalan-amalan saleh yang dilakukan di bulan ini akan memperoleh ganjaran yang besar, dan dosa yang dilakukan padanya akan mendatangkan kerugian yang lebih berat.

    3. Waktu Terbaik untuk Memperbanyak Amal

    Selain puasa, bulan Muharam juga merupakan waktu yang tepat untuk memperbanyak amal ibadah lainnya seperti:

    • Sholat sunnah, terutama di malam hari
    • Membaca Al-Qur’an dan berdzikir
    • Bersedekah kepada fakir miskin
    • Silaturahmi dan memperkuat ukhuwah Islamiyah
    • Memperbanyak doa dan istighfar

    Para ulama menyebut Muharam sebagai bulan "pembuka keberkahan", sebab ia datang sebagai awal tahun Hijriyah. Maka memperbanyak amal saleh di bulan ini diharapkan menjadi langkah awal yang baik untuk sepanjang tahun ke depan.

    4. Larangan Maksiat dan Anjuran Introspeksi

    Dalam bulan-bulan haram, termasuk Muharam, umat Islam diingatkan agar tidak melakukan dzhulm (kezaliman), baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Dosa di bulan ini lebih berat di sisi Allah, sebagaimana amal baik pun lebih besar ganjarannya.

    Oleh sebab itu, bulan Muharam menjadi waktu yang sangat tepat untuk introspeksi diri (muhasabah). Umat Islam didorong untuk merefleksikan kembali perjalanan hidupnya, memperbaiki kesalahan di masa lalu, dan bertekad untuk hijrah menuju kehidupan yang lebih baik—baik dari sisi akhlak, ibadah, maupun hubungan sosial.

    IV. Peristiwa Penting dalam Bulan Muharam

    Bulan Muharam tidak hanya istimewa karena kemuliaannya sebagai bulan suci dan awal tahun Hijriyah, tetapi juga karena terdapat sejumlah peristiwa penting dan bersejarah yang terjadi dalam bulan ini, baik dari zaman para nabi terdahulu maupun pada masa awal Islam. Peristiwa-peristiwa ini menjadi pelajaran besar dalam sejarah keimanan, pengorbanan, dan perjuangan menegakkan kebenaran.

    1. Puasa Asyura (10 Muharam)

    Salah satu peristiwa yang paling menonjol dalam bulan Muharam adalah anjuran untuk melaksanakan puasa Asyura, yaitu puasa pada tanggal 10 Muharam. Puasa ini memiliki sejarah panjang yang bahkan mendahului masa kerasulan Nabi Muhammad SAW.

    a. Latar Belakang Sejarah

    Ketika Nabi Muhammad SAW tiba di Madinah dalam peristiwa hijrah, beliau menemukan kaum Yahudi sedang melaksanakan puasa pada tanggal 10 Muharam. Ketika ditanya, mereka menjawab bahwa hari tersebut adalah hari di mana Nabi Musa AS dan Bani Israil diselamatkan dari kejaran Firaun dengan mukjizat Allah SWT yang membelah laut. Maka dari itu, mereka berpuasa sebagai bentuk syukur.

    Mendengar hal itu, Rasulullah SAW bersabda:

    "Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian."
    (HR. Bukhari dan Muslim)

    Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan para sahabat untuk ikut berpuasa Asyura, dan sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan, puasa Asyura adalah puasa yang disyariatkan. Setelah Ramadhan diwajibkan, puasa Asyura menjadi sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan).

    b. Keutamaan Puasa Asyura

    Rasulullah SAW bersabda:

    "Puasa pada hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar Dia menghapus dosa-dosa setahun yang lalu."
    (HR. Muslim)

    Karena besarnya pahala ini, puasa Asyura dianggap sebagai kesempatan emas bagi umat Islam untuk mendapat ampunan dari dosa-dosa kecil setahun sebelumnya. Rasulullah SAW juga menganjurkan untuk menambah puasa pada tanggal 9 Muharam (Tasua), agar berbeda dari praktik puasa Yahudi.

    2. Tragedi Karbala (10 Muharam)

    Salah satu peristiwa paling memilukan dalam sejarah Islam yang terjadi pada 10 Muharam adalah Tragedi Karbala, yaitu gugurnya cucu Rasulullah SAW, Sayyidina Husain bin Ali RA, bersama keluarganya dan para pengikutnya.

    a. Latar Belakang

    Peristiwa ini terjadi pada tahun 61 Hijriyah (680 M) di daerah Karbala, Irak. Sayyidina Husain menolak memberikan baiat (janji setia) kepada Khalifah Yazid bin Muawiyah, yang dianggap oleh sebagian besar umat Islam saat itu tidak layak memimpin umat karena kepemimpinannya yang dianggap zalim dan tidak mencerminkan nilai-nilai Islam.

    Dalam upaya menegakkan kebenaran, Husain bersama keluarga dan pengikutnya berangkat dari Mekah ke Kufah. Namun, di tengah perjalanan mereka diadang oleh pasukan Yazid. Husain dan rombongannya yang hanya berjumlah sekitar 70 orang dikepung dan diputus akses ke air selama beberapa hari.

    b. Tragedi dan Pengaruhnya

    Pada 10 Muharam, seluruh rombongan Sayyidina Husain dibantai secara keji. Tragedi ini sangat mengguncang umat Islam dan dikenang sebagai simbol pengorbanan, keteguhan iman, dan perjuangan melawan kezaliman.

    Di kalangan Syiah, hari Asyura diperingati secara khusus sebagai hari duka besar. Sementara dalam kalangan Sunni, peristiwa ini dikenang sebagai bagian dari sejarah kelam Islam yang penuh pelajaran, namun tidak diperingati secara ritual seperti dalam mazhab Syiah.

    3. Peristiwa-Peristiwa Besar Lain dalam Riwayat

    Selain dua peristiwa di atas, dalam berbagai kitab tafsir dan sejarah disebutkan bahwa banyak peristiwa besar yang terjadi pada tanggal 10 Muharam atau bulan Muharam secara umum, di antaranya:

    • Tobat Nabi Adam AS diterima oleh Allah SWT
    • Diselamatkannya Nabi Nuh AS dan pengikutnya dari banjir besar – kapalnya mendarat di Bukit Judi
    • Nabi Ibrahim AS diselamatkan dari api Raja Namrud
    • Nabi Yusuf AS dibebaskan dari penjara
    • Nabi Ayub AS disembuhkan dari penyakitnya
    • Nabi Yunus AS dikeluarkan dari perut ikan
    • Laut Merah terbelah untuk menyelamatkan Nabi Musa AS dan Bani Israil

    Walau sebagian riwayat tersebut tidak semuanya shahih secara sanad, banyak ulama klasik menyebutkannya dalam konteks hikmah dan pengajaran tentang kekuasaan dan rahmat Allah yang sangat besar kepada para nabi dan orang-orang saleh.


    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    ad728

    Post Bottom Ad

    ad728